Diary untuk Anakku #4

Malang, 13 April 2018

Hai, Nak. Ayah, Ibu, dan Tata Nia sedang di Malang. Tiba pagi tadi di rumah almarhum Kakekmu. Di rumah inilah Ayah mengucapkan kalimat Ijab Kabul atas nama Ibumu, tepat 20 Jumat yang lalu. Jika Jumat kemarin adalah ulang tahun Ayah, maka Jumat yang sekarang adalah ulang tahun orang yang akan Ayah kenalkan padamu.  Ingatlah tanggal 13 April, karena dengan mengingat ini, kamu akan melanjutkan rasa terima kasih kedua orang tuamu kepada orang yang lahir di tanggal ini, 33 tahun silam. Satriaddin Maharinga Djongki. Panggil dia, Paman Arie.

Sebutan “Paman” untuk orang Lamakera itu ditujukan untuk saudara laki-laki dari garis Ibu. Ayah ingin kamu memanggilnya “Paman”, karena dibanding dengan Ayah, Paman Arie itu lebih perhatian menjaga Ibumu dulu. Dia sudah seperti saudara Ibu. Jika Ayah menjaga Ibumu karena perasaan suka, maka Paman Arie itu menjaga Ibumu karena perasaan tanggung jawab seorang kakak laki-laki. Itulah kenapa Ayah menangis ketika memeluknya di pelaminan. Karena Ayah merasakan tunainya sebuah janji di antara kami. Janji antara Ayah dan Paman Arie, menyangkut Ibumu.

Continue reading

Advertisements

Diary untuk Anakku #3

Depok, 8 April 2018

Pagi ini Ayah menciummu dari perut Ibumu, Nak. Jika kamu bisa merasakan, berarti kamu juga merasakan ciuman Ayah semalam, pagi kemarin, dua malam yang lalu, dua pagi yang lalu, tiga malam yang lalu, tiga pagi yang lalu, dan entah berapa malam dan pagi yang lalu. Banyak. Ayah ingin selalu bisa menciummu, sekarang hingga sampai nanti ketika kita sama-sama sudah renta. Ayah menulis ini agar nanti jika Ayah lupa, kamu bisa mengingatkan. Karena entah mengapa ketika kamu beranjak dewasa, mungkin akan ada jarak di antara kita yang membuat Ayah tidak bisa sesering ini menciummu.

Dua hari yang lalu adalah ulang tahun Ayah yang ke 30. Hal pertama yang terbersit di kepala Ayah adalah ketika Ayah berumur panjang dan mencapai angka 60 maka kamu sudah berumur 30 seperti Ayah sekarang. Mungkin sedang duduk di depan laptop (atau entah barang canggih apa di zamanmu) dan menulis diary untuk anakmu. Itu pun jika Dajjal belum turun ke dunia. Semoga di zamanmu nanti, para ahli Sastra Indonesia tidak lagi menyempurnakan “Ejaan Yang Telah Disempurnakan” di zaman Ayah ini, agar kamu bisa membaca diary ini dengan ejaan dan pendekatan SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan) yang sama dengan Ayah. Karena Ayah pernah membeli buku tentang Sejarah Kerajaan-Kerajaan Kuno di Jawa yang menggunakan ejaan lama. Di dua lembar pertama, Ayah berhenti membaca. Pusing. Boekoe 600 lembar dengan tjara penoelisan dan membatja jang berbeda tidak bisa dibatja dengan tjara jang santai sebeloem tidoer malam.

Continue reading

Diary untuk Anakku #2

Depok, 25 Maret 2018

Hai Nak, apa kabar di dalam sana? Maaf Ayah dan Ibu belum bisa memberimu nama. Belum terpikirkan. Nanti akan tiba saatnya kami, juga Kakek dan Nenekmu mungkin, berdiskusi memikirkan sebuah nama untukmu. Sampai tiba saat itu, biarlah sekarang kami memanggilmu “Anak” karena dari segala nama di dunia ini, sebutan itulah yang mendekatkan kita. Sama halnya dengan sebutan “Ayah” dan “Ibu” -sebutan yang berarti mempunyai- untuk kami berdua.

Tiga hari yang lalu, 22 Maret adalah hari ulang tahun yang ke 22 untuk Tata Nia. Sudah lebih dari seminggu ia menemani Ibumu di rumah, Nak. Menemani kamu juga karena Ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Berangkat selepas Subuh dan pulang bersama Muadzin yang berangkat ke Masjid, juga untuk adzan Subuh. Kekuatan Ayah hanya dari pelukan Ibumu sambil mengelus-elus perutnya. Bertukar sedikit cerita tentang kegiatan masing-masing, lalu tertidur di samping Ibumu. Sesekali jika Ayah terjaga, Ibumu masih dengan posisi yang sama, belum tertidur.

Continue reading

Diary untuk Anakku #1

Selepas Ashar, 27 Februari 2018. Ayahmu sedang berbahagia, Nak. Duduk di depan rumah kontrakan kita sambil menulis ini. Suara beberapa anak kecil bermain petak umpet di musholla seberang terdengar sampai ke rumah ini. Mungkin ketika kamu besar nanti, mereka sudah menjadi bapak-bapak komplek yang menyiram halaman rumah di sore hari. Persis seperti yang Ayahmu lakukan setiap sore, kecuali sore ini. Dari kemarin langit Depok sedang mencurah nikmat, hujan tanpa henti. Tuhan seperti ingin meringankan tanggung jawab Ayahmu untuk menjaga tanaman di pekarangan rumah. Mungkin karena Tuhan lebih tahu bahwa ada tanggung jawab lebih besar yang ia titipkan pada Ayahmu daripada sekedar rumput gajah, dan bunga-bunga berwarna itu.

Continue reading

K.I.T.A.

Semoga Anies dan Sandi menang.

Kalimat pertama itu mungkin sudah membedakanku dengan sebagian teman yang membaca tulisan ini. Sebagian lagi ikut senang karena ternyata pilihannya sama. Sebagian lagi masih bingung kenapa banyak orang menjadi berbeda. Seolah-olah seperti baru pertama kali menghadapi apa-apa yang tidak sama. Hidup adalah hasil dari memilih. Tuhan memberi pilihan pada tiap kita saat berada di kandungan, lalu kita memilih untuk menyanggupi perintah-Nya. Air Mani menjadi segumpal darah. Segumpal darah menjadi segumpal daging. Segumpal daging menjadi tulang belulang. Tulang belulang dibungkus kembali dengan segumpal daging. Diberi bentuk. Dan kita hadir di sini sekarang. Berbeda.

Setiap saat dalam hidup ini menawarkan pilihan, dan konsekuensi dari memilih adalah beda. Naïf sekali jika itu menjadi penyebab sengketa. Aku dan kamu. Jika dari banyak beda yang sudah diambil sebagai pilihan, kita mampu berjalan bersama, mengapa yang satu ini tidak? Karena siapapun yang menang, jangan pernah mengubah diri kita menjadi pribadi yang buruk.

Continue reading

Mas Barok

April itu bulan doa, menurutku. Karena di bulan inilah orang-orang begitu ramai mendoakan karir, jodoh, dan rejeki untukku. April itu bulan doa, menurut Ayahku. Karena di bulan ini InsyaAllah beliau akan melaksanakan ibadah Umroh. Inilah yang membuat beliau mondar mandir Jakarta – Larantuka layaknya orang bolak balik Duren Tiga – Pejaten. Sibuk mengurusi pendaftaran dan segala macam persyaratan untuk Umroh di salah satu agen travel di Salemba yang namanya butuh empat kali dialog baru bisa kuhafal.

“Anak, besok sibuk tidak?”

“Kenapa Bapa?”

“Antar Bapa pi Salemba dulu. Mereka kemarin telfon suruh ke sana.”

“Aduh Bapa, besok beta suting dari pagi. Nanti beta minta kawan yang antar saja e.”

Obrolan ini terjadi di suatu malam. Dan berulang di malam-malam besoknya. Kadang tidak enak hati menolak mengantar, tapi apa daya, industri tak bisa dilawan. Beruntunglah aku punya teman yang sering menemani shooting, di sela-sela itu ia bisa membantu mengantar Ayahku ke Salemba. Tidak beruntungnya adalah, akhir-akhir ini waktunya terbatas karena ia juga harus membantu kakaknya yang sedang sakit. Jadilah Ayahku sendirian mengarungi Jakarta yang super megah dengan jalan-jalan di atas kepala manusia ini. Beda sekali dengan Larantuka. Jalan raya di sana itu hanya satu. Betul-betul hanya satu. Jangankan jalan-jalan, jika Ayahku pergi dan belum pulang hingga bulan haji tiba pun aku tidak khawatir. Tapi ini Jakarta, yang mempunyai prapatan di Mampang, bukan Larantuka yang tidak punya perempatan.

Continue reading

Tahun Berganti

“Dur, apa resolusimu di 2016?”
“Buat sekolah.”
“Masih?”
“Aku mau hibahkan diri untuk Pendidikan Tepian Negeri.”
“Yakin kuat?”
“Ya doakan saja. Semoga istiqomah.”

Aku tak tahu waktu persis di jam tanganku saat itu, yang aku tahu Bumi sedang menggenapkan putarannya pada Matahari dan manusia merayakannya dengan berbagai kembang api pemecah sunyi. Warna-warni di langit. Terompet-terompet bertukar bunyi. Si pemain baru, bernomor punggung 2016 memasuki lapangan.

September 2015. Aku diajak menggalang dana untuk Pendidikan Tepian Negeri bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) Indonesia. Tujuan aksi ini adalah untuk membangun sekolah-sekolah di “tepian negeri”. Tepian yang tidak diartikan secara harfiah. Tepian yang diartikan dengan menghapus lintang dan bujur di atas peta. Tepian bagi mereka yang terabaikan. Inilah yang membuatku tak mau berhenti. Aku tak mau tergantikan dalam arena lomba kebaikan ini. Cukup tahun yang berganti. Aku jangan.

Continue reading

Sembilan Belas Tujuh Sembilan

Desa Tanda Raja, Kikim Timur, Kabupaten Lahat, pedalaman Sumatera Selatan. Seandainya ia tidak lahir di sini, mungkin aku pun tak pernah tau ada daerah ini. Aku mengenalnya hanya lewat Negeri Para Bedebah, Negeri Di Ujung Tanduk, Rindu, Bumi, dan berjejer belasan judul lainnya dalam rak bukuku. Ia begitu memikat lewat ulasan kata, kedalaman makna, dan tutur cerita. Ia mampu menghadirkan canda, pun air mata dalam imaji tiap pembaca. Jika ia mampu menghafal 26 abjad dalam tatanan Bahasa Indonesia, aku pun. Kombinasi dan permutasi dari tiap abjad menjadi kata, tiap kata menjadi kalimat, tiap kalimat menjadi alinea, lalu indah begitu saja ketika disusur mata, itulah perbedaan aku dengannya.

Aku cukup yakin, ia yang lahir dari keluarga petani mempunyai pengalaman hidup seperti kita kebanyakan. Apalagi dengan riwayat pendidikan yang tidak mewah seperti orang lain hingga ke Singapura, Inggris, atau Amerika. Setelah lulus dari SMU Negeri 9 Bandar Lampung, ia meneruskan kuliah ke Fakultas Ekonomi UI. Jalan pendidikannya mungkin hampir mirip dengan Andrea Hirata tanpa Sorbonne. Siapa yang mengira pedalaman Sumatera Selatan di tahun 1979, tepatnya pada bulan Mei hari kedua puluh satu melahirkan seorang laki-laki dengan talenta pencerita ulung? Siapa yang mengira SD Negeri 2 Kikim Timur akan menjadi salah satu bagian penting laki-laki itu belajar menjadi sekarang? Ia pun mungkin tidak mengira. Probabilitas kehidupan terlalu kompleks untuk kombinasi pada satu titik waktu. Kadang, keberkahan memang hadir dari pelosok.

Continue reading

Ini Pesta Kita

Seperti sebulan berpuasa dan menanti datangnya Idul Fitri untuk berbahagia, begitulah para komika negeri ini menyambut Stand Up Festival di tiap tahunnya. Dan tahun ini saya pribadi akan berbuka puasa dengan gembira, karena akhirnya setelah menunggu selama tiga tahun, kesempatan itu datang. Kesempatan menghibur teman-teman semua di panggung Stand Up Fest bersama David Nurbianto dan Dzawin Nur Ikram. Kami, Rule Of Three akan hadir untuk kalian semua.

Stand Up Fest tidak hanya menghibur para penonton. Secara khusus justru menghibur tiap komika yang datang di sana. Inilah momen temu kangen komika di seluruh Nusantara. Bertemu saling mengenal, menguatkan bangunan komunitas, dan pulang membawa semangat menyatukan. Dengan semua perasaan inilah kalian akan dihibur. Disuguhkan komedi selama dua hari tanpa beda. Dijamu oleh ratusan komika. Menertawakan kata, menertawakan kita.

12-13 September 2015

12-13 September 2015

Di beberapa kesempatan sharing bersama komunitas daerah, saya sering ditanya, “Apakah Stand Up Comedy ini hanya demam sementara yang akan hilang dalam waktu yang singkat?”, dan jawaban saya adalah tergantung. Bergantung tiap komunitas di daerahnya masing-masing, mau terus open mic atau tidak. Karena menurut saya, Stand Up Comedy akan selalu hadir di Indonesia ketika tiap-tiap komunitasnya kokoh di daerah sendiri. Menjaga penonton dengan komedi yang baik, dan menelurkan komika-komika baru di tiap waktu. Kekuatan komunitas itu luar biasa.

Dua kali saya gagal menjadi finalis Street Comedy mewakili Malang dan Jawa Timur, salah satu jalan di mana saya bisa berada di panggung Stand Up Fest, tapi kemudian Tuhan memberi jalan lain. Menjadi salah satu line up di panggung Stand Up Fest tanpa jalur audisi ataupun play off. Bergabung dengan ratusan komika hebat se-Nusantara. Dilihat oleh ribuan pasang mata. Dan semua ini karena totalitas di komunitas daerah. Terima kasih.

Pada akhirnya, tanggal 12-13 September 2015 akan menjadi hari bersejarah, kalian dan kami semua adalah saksi, hidupnya Stand Up Comedy di Indonesia. Pada hari itu tak ada lagi istilah suka atau tidak suka karena yang menjadi akhir cerita adalah gelak tawa bahagia. Ini pesta kita. (alk)

Percaya

Beberapa waktu lalu ada yang bertanya di twitter, “Bang Abdur, apakah kita sudah merdeka?” Saya tidak menjawab. Hanya berpikir. Anak ini mungkin ngetweet sambil asah Bambu Runcing, jaga benteng, atau sedang disandera Belanda jadi pekerja rodi yang bikin Holland Bakery rasanya seperti Sari Roti. Kita sudah merdeka. Itu pasti. Kita sudah proklamasi, kita punya konstitusi, kita punya bendera sendiri, kita bahkan memimpin konferensi, apa lagi yang membuat kita belum merdeka?

Ada juga yang ngetweet, “Bang, kita semua ini belum merdeka seutuhnya!” Saya juga tidak menjawab. Mungkin dia ini mandor dari pekerja rodi yang tadi. Pemilik Holland Bakery yang bangunannya di atas Laut Cina Selatan. Merdeka bikin roti tapi terjajah di atas wilayah konflik. Entahlah saya hanya tidak mengerti. Apapun yang bisa kita lakukan sekarang, naik Pesawat, minum Teh Botol Sosro, baca ramalan zodiak, dengar lagu Payung Teduh, titip salam ke Pramugari, atau juga cari-cari colokan di dalam café, itu semua bisa kita lakukan atas nama Kemerdekaan. Kita bebas, tak dijajah.

Pernahkah kita dengar Pattimura dan Imam Bonjol sempatkan diri baca ramalan zodiak sebelum berangkat perang? “Hmmm.. hari ini kesehatan bagaimana ya? Kesehatan.. Hati-hati dengan kadar gula anda, satu peluru Belanda di mata kaki bisa mengakibatkan kelumpuhan.”

Akhirnya Pattimura dan Imam Bonjol sepakat batalkan perang untuk minggu itu.

Terima saja jika kita sudah merdeka. Jangan mempersulit diri dengan merdeka yang utuh atau tidak utuh. Bung Karno, 70 tahun yang lalu menyatakan Indonesia merdeka bukan untuk melihat generasinya bersusah diri, tapi untuk bangkit membangun negeri. Syukuri. Walaupun generasinya lebih suka liga Italy dari pada liga buatan PSSI. Jika belum merdeka karena merasa dijajah bangsa sendiri, maka sebenarnya dalam hal itu pun kita sudah merdeka. Hanya kadang tak sadar jika kemerdekaan itu sudah dibeli.

Teman-teman, saya hanya tidak mau menyerah untuk percaya. Karena dengan percaya, tipuan itu akan lelah sendiri. Dengan percaya, kita memberi kesempatan untuk pembuktian bakti. Dengan percaya, kita lebih punya waktu untuk mengurus diri. Dengan percaya, kita optimis mengawal janji. Dengan percaya, kita akan lebih bahagia dan tenteram hati.

Percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui, jangan henti di sini – Sementara (Float)