K.I.T.A.

Semoga Anies dan Sandi menang.

Kalimat pertama itu mungkin sudah membedakanku dengan sebagian teman yang membaca tulisan ini. Sebagian lagi ikut senang karena ternyata pilihannya sama. Sebagian lagi masih bingung kenapa banyak orang menjadi berbeda. Seolah-olah seperti baru pertama kali menghadapi apa-apa yang tidak sama. Hidup adalah hasil dari memilih. Tuhan memberi pilihan pada tiap kita saat berada di kandungan, lalu kita memilih untuk menyanggupi perintah-Nya. Air Mani menjadi segumpal darah. Segumpal darah menjadi segumpal daging. Segumpal daging menjadi tulang belulang. Tulang belulang dibungkus kembali dengan segumpal daging. Diberi bentuk. Dan kita hadir di sini sekarang. Berbeda.

Setiap saat dalam hidup ini menawarkan pilihan, dan konsekuensi dari memilih adalah beda. Naïf sekali jika itu menjadi penyebab sengketa. Aku dan kamu. Jika dari banyak beda yang sudah diambil sebagai pilihan, kita mampu berjalan bersama, mengapa yang satu ini tidak? Karena siapapun yang menang, jangan pernah mengubah diri kita menjadi pribadi yang buruk.

Continue reading

Mas Barok

April itu bulan doa, menurutku. Karena di bulan inilah orang-orang begitu ramai mendoakan karir, jodoh, dan rejeki untukku. April itu bulan doa, menurut Ayahku. Karena di bulan ini InsyaAllah beliau akan melaksanakan ibadah Umroh. Inilah yang membuat beliau mondar mandir Jakarta – Larantuka layaknya orang bolak balik Duren Tiga – Pejaten. Sibuk mengurusi pendaftaran dan segala macam persyaratan untuk Umroh di salah satu agen travel di Salemba yang namanya butuh empat kali dialog baru bisa kuhafal.

“Anak, besok sibuk tidak?”

“Kenapa Bapa?”

“Antar Bapa pi Salemba dulu. Mereka kemarin telfon suruh ke sana.”

“Aduh Bapa, besok beta suting dari pagi. Nanti beta minta kawan yang antar saja e.”

Obrolan ini terjadi di suatu malam. Dan berulang di malam-malam besoknya. Kadang tidak enak hati menolak mengantar, tapi apa daya, industri tak bisa dilawan. Beruntunglah aku punya teman yang sering menemani shooting, di sela-sela itu ia bisa membantu mengantar Ayahku ke Salemba. Tidak beruntungnya adalah, akhir-akhir ini waktunya terbatas karena ia juga harus membantu kakaknya yang sedang sakit. Jadilah Ayahku sendirian mengarungi Jakarta yang super megah dengan jalan-jalan di atas kepala manusia ini. Beda sekali dengan Larantuka. Jalan raya di sana itu hanya satu. Betul-betul hanya satu. Jangankan jalan-jalan, jika Ayahku pergi dan belum pulang hingga bulan haji tiba pun aku tidak khawatir. Tapi ini Jakarta, yang mempunyai prapatan di Mampang, bukan Larantuka yang tidak punya perempatan.

Continue reading

Tahun Berganti

“Dur, apa resolusimu di 2016?”
“Buat sekolah.”
“Masih?”
“Aku mau hibahkan diri untuk Pendidikan Tepian Negeri.”
“Yakin kuat?”
“Ya doakan saja. Semoga istiqomah.”

Aku tak tahu waktu persis di jam tanganku saat itu, yang aku tahu Bumi sedang menggenapkan putarannya pada Matahari dan manusia merayakannya dengan berbagai kembang api pemecah sunyi. Warna-warni di langit. Terompet-terompet bertukar bunyi. Si pemain baru, bernomor punggung 2016 memasuki lapangan.

September 2015. Aku diajak menggalang dana untuk Pendidikan Tepian Negeri bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) Indonesia. Tujuan aksi ini adalah untuk membangun sekolah-sekolah di “tepian negeri”. Tepian yang tidak diartikan secara harfiah. Tepian yang diartikan dengan menghapus lintang dan bujur di atas peta. Tepian bagi mereka yang terabaikan. Inilah yang membuatku tak mau berhenti. Aku tak mau tergantikan dalam arena lomba kebaikan ini. Cukup tahun yang berganti. Aku jangan.

Continue reading

Sembilan Belas Tujuh Sembilan

Desa Tanda Raja, Kikim Timur, Kabupaten Lahat, pedalaman Sumatera Selatan. Seandainya ia tidak lahir di sini, mungkin aku pun tak pernah tau ada daerah ini. Aku mengenalnya hanya lewat Negeri Para Bedebah, Negeri Di Ujung Tanduk, Rindu, Bumi, dan berjejer belasan judul lainnya dalam rak bukuku. Ia begitu memikat lewat ulasan kata, kedalaman makna, dan tutur cerita. Ia mampu menghadirkan canda, pun air mata dalam imaji tiap pembaca. Jika ia mampu menghafal 26 abjad dalam tatanan Bahasa Indonesia, aku pun. Kombinasi dan permutasi dari tiap abjad menjadi kata, tiap kata menjadi kalimat, tiap kalimat menjadi alinea, lalu indah begitu saja ketika disusur mata, itulah perbedaan aku dengannya.

Aku cukup yakin, ia yang lahir dari keluarga petani mempunyai pengalaman hidup seperti kita kebanyakan. Apalagi dengan riwayat pendidikan yang tidak mewah seperti orang lain hingga ke Singapura, Inggris, atau Amerika. Setelah lulus dari SMU Negeri 9 Bandar Lampung, ia meneruskan kuliah ke Fakultas Ekonomi UI. Jalan pendidikannya mungkin hampir mirip dengan Andrea Hirata tanpa Sorbonne. Siapa yang mengira pedalaman Sumatera Selatan di tahun 1979, tepatnya pada bulan Mei hari kedua puluh satu melahirkan seorang laki-laki dengan talenta pencerita ulung? Siapa yang mengira SD Negeri 2 Kikim Timur akan menjadi salah satu bagian penting laki-laki itu belajar menjadi sekarang? Ia pun mungkin tidak mengira. Probabilitas kehidupan terlalu kompleks untuk kombinasi pada satu titik waktu. Kadang, keberkahan memang hadir dari pelosok.

Continue reading

Ini Pesta Kita

Seperti sebulan berpuasa dan menanti datangnya Idul Fitri untuk berbahagia, begitulah para komika negeri ini menyambut Stand Up Festival di tiap tahunnya. Dan tahun ini saya pribadi akan berbuka puasa dengan gembira, karena akhirnya setelah menunggu selama tiga tahun, kesempatan itu datang. Kesempatan menghibur teman-teman semua di panggung Stand Up Fest bersama David Nurbianto dan Dzawin Nur Ikram. Kami, Rule Of Three akan hadir untuk kalian semua.

Stand Up Fest tidak hanya menghibur para penonton. Secara khusus justru menghibur tiap komika yang datang di sana. Inilah momen temu kangen komika di seluruh Nusantara. Bertemu saling mengenal, menguatkan bangunan komunitas, dan pulang membawa semangat menyatukan. Dengan semua perasaan inilah kalian akan dihibur. Disuguhkan komedi selama dua hari tanpa beda. Dijamu oleh ratusan komika. Menertawakan kata, menertawakan kita.

12-13 September 2015

12-13 September 2015

Di beberapa kesempatan sharing bersama komunitas daerah, saya sering ditanya, “Apakah Stand Up Comedy ini hanya demam sementara yang akan hilang dalam waktu yang singkat?”, dan jawaban saya adalah tergantung. Bergantung tiap komunitas di daerahnya masing-masing, mau terus open mic atau tidak. Karena menurut saya, Stand Up Comedy akan selalu hadir di Indonesia ketika tiap-tiap komunitasnya kokoh di daerah sendiri. Menjaga penonton dengan komedi yang baik, dan menelurkan komika-komika baru di tiap waktu. Kekuatan komunitas itu luar biasa.

Dua kali saya gagal menjadi finalis Street Comedy mewakili Malang dan Jawa Timur, salah satu jalan di mana saya bisa berada di panggung Stand Up Fest, tapi kemudian Tuhan memberi jalan lain. Menjadi salah satu line up di panggung Stand Up Fest tanpa jalur audisi ataupun play off. Bergabung dengan ratusan komika hebat se-Nusantara. Dilihat oleh ribuan pasang mata. Dan semua ini karena totalitas di komunitas daerah. Terima kasih.

Pada akhirnya, tanggal 12-13 September 2015 akan menjadi hari bersejarah, kalian dan kami semua adalah saksi, hidupnya Stand Up Comedy di Indonesia. Pada hari itu tak ada lagi istilah suka atau tidak suka karena yang menjadi akhir cerita adalah gelak tawa bahagia. Ini pesta kita. (alk)

Percaya

Beberapa waktu lalu ada yang bertanya di twitter, “Bang Abdur, apakah kita sudah merdeka?” Saya tidak menjawab. Hanya berpikir. Anak ini mungkin ngetweet sambil asah Bambu Runcing, jaga benteng, atau sedang disandera Belanda jadi pekerja rodi yang bikin Holland Bakery rasanya seperti Sari Roti. Kita sudah merdeka. Itu pasti. Kita sudah proklamasi, kita punya konstitusi, kita punya bendera sendiri, kita bahkan memimpin konferensi, apa lagi yang membuat kita belum merdeka?

Ada juga yang ngetweet, “Bang, kita semua ini belum merdeka seutuhnya!” Saya juga tidak menjawab. Mungkin dia ini mandor dari pekerja rodi yang tadi. Pemilik Holland Bakery yang bangunannya di atas Laut Cina Selatan. Merdeka bikin roti tapi terjajah di atas wilayah konflik. Entahlah saya hanya tidak mengerti. Apapun yang bisa kita lakukan sekarang, naik Pesawat, minum Teh Botol Sosro, baca ramalan zodiak, dengar lagu Payung Teduh, titip salam ke Pramugari, atau juga cari-cari colokan di dalam café, itu semua bisa kita lakukan atas nama Kemerdekaan. Kita bebas, tak dijajah.

Pernahkah kita dengar Pattimura dan Imam Bonjol sempatkan diri baca ramalan zodiak sebelum berangkat perang? “Hmmm.. hari ini kesehatan bagaimana ya? Kesehatan.. Hati-hati dengan kadar gula anda, satu peluru Belanda di mata kaki bisa mengakibatkan kelumpuhan.”

Akhirnya Pattimura dan Imam Bonjol sepakat batalkan perang untuk minggu itu.

Terima saja jika kita sudah merdeka. Jangan mempersulit diri dengan merdeka yang utuh atau tidak utuh. Bung Karno, 70 tahun yang lalu menyatakan Indonesia merdeka bukan untuk melihat generasinya bersusah diri, tapi untuk bangkit membangun negeri. Syukuri. Walaupun generasinya lebih suka liga Italy dari pada liga buatan PSSI. Jika belum merdeka karena merasa dijajah bangsa sendiri, maka sebenarnya dalam hal itu pun kita sudah merdeka. Hanya kadang tak sadar jika kemerdekaan itu sudah dibeli.

Teman-teman, saya hanya tidak mau menyerah untuk percaya. Karena dengan percaya, tipuan itu akan lelah sendiri. Dengan percaya, kita memberi kesempatan untuk pembuktian bakti. Dengan percaya, kita lebih punya waktu untuk mengurus diri. Dengan percaya, kita optimis mengawal janji. Dengan percaya, kita akan lebih bahagia dan tenteram hati.

Percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui, jangan henti di sini – Sementara (Float)

Berat Mameen!

Tulisan ini jauh dari kata sempurna. Mohon maaf sebelumnya. Saya orang awam yang hanya ingin bersuara

Setelah episode Grand Final SUCI 4, 26 Juni 2014 mengudara di Kompas TV. Melewati kabel, tabung, dan flat di layar-layar Indonesia. Banyak mention berisi pertanyaan tentang sosok Nahkoda, pemimpin Kapal Tua Indonesia menurut pendapat saya. Pertanyaan yang bukan sekedar pertanyaan biasa seperti, “Sudah berapa kali anda minum Tuak hari ini?”. Pertanyaan tentang Nahkoda butuh jawaban dengan serentetan alasan yang baik agar mudah dicerna dan dimengerti oleh orang-orang yang memiliki pertanyaan yang sama atas diri saya.

Berat. Itu kata yang paling pas dari milyaran kosakata di negeri ini. Ketika tulisan ini saya buat, sejujurnya saya belum menentukan pilihan pasti tentang siapa yang akan saya pilih. Berat. Keduanya mempunyai nilai yang bisa dijual, juga punya nilai yang tak bisa saya urai dengan pengetahuan sempit yang saya punya. Berat. Suara saya memang hanya satu, tapi bertahan dan fokus pada satu di antara dua yang sama-sama datang dengan kebaikan membuat satu terasa tak lengkap tanpa dua. Berat. Karena satu ditambah satu sama dengan dua. Oke, ini gila.

Tidak dipungkiri, salah satu kalimat tentang Pemimpin yang mengerti Bhinneka Tunggal Ika bukan Boneka Milik Amerika di rima Kapal Tua menjadi bahan favorit yang masuk di tab mention saya. Kebanyakan dari kubu Prabowo. Salah? Menurut saya tidak, silahkan berpendapat. Yang jelas rima itu saya buat jauh sebelum 2014. Pertanda? Wallahu’alam. Ada juga beberapa orang yang mengatakan mengikuti saja apa yang menjadi pilihan saya. Menurut saya, jangan. Perbanyak saja baca, dalami diskusi dengan orang-orang yang sependapat ataupun yang tidak sependapat, cerna mana yang beropini dengan baik dan mana yang tidak, tentukan pilihan atas apa yang kamu percaya, bukan karena takut dicerca.

Continue reading

Rima “Kapal Tua”

Jaya Indonesia..

Grand Final SUCI 4 Tema Politik

Grand Final SUCI 4 Tema Politik

Sebagai anak Nelayan dari Lamakera, saya melihat Indonesia itu seperti Kapal Tua, yang berlayar tak tahu arah.

Arahnya ada, hanya Nahkoda kita yang tidak bisa membaca.

Mungkin dia bisa membaca tapi tertutup hasrat membabi buta, hasrat hidupi keluarga, saudara, kolega, dan mungkin istri muda.

 

Indonesia itu memang seperti Kapal Tua dengan penumpang berbagai rupa,

Ada dari Sumatera, Jawa, Madura, Sumbawa hingga Papua. Bersatu dalam Nusantara.

Enam kali sudah kita ganti Nahkoda tapi masih jauh dari kata “sejahtera”.

Dari dulu, dari teriakkan kata “merdeka” sampai sekarang “folbek dong kakaaaaa”

 

Nahkoda pertama, Sang Proklamator bersama Hatta,

Membangun dengan semangat Pancasila dan terkenal di kalangan wanita,

Ia pernah berkata mampu guncangkan dunia dengan sepuluh pemuda,

Tapi itukan kurang satu untuk tim sepak bola? Kalo begini kapan baru kita ikut Piala Dunia?

 

Nahkoda kedua, Sang Jenderal Cendana 32 tahun berkuasa,

Datang dengan program bernama PELITA.

Bapak Pembangunan bagi mereka, bagi saya, tidak ada bedanya. Tidak ada.

Penumpang bersuara berakhir di penjara atau hilang di lautan tanpa berita.

Beda dengan Dodit Mulyanto, hanya modal Biola saja, terkenal di Indonesia.

 

Nahkoda ketiga, sang wakil yang naik tahta, mewarisi pecah belahnya masa Orba.

Belum sempat menjelajah Samudera, ia terhenti di tahun pertama.

Dibanggakan di Eropa, dipermainkan di Indonesia.

Jerman dapat ilmunya. Kita dapat apa? Antrian panjang nonton filmnya.

 

Nahkoda selanjutnya, Sang Kyai dengan hati terbuka.

Mendapat gelar Bapak Tionghoa. Mungkin inilah bapaknya Ahok dan Ernest Prakasa.

Ia terhenti dalam sidang Istimewa ketika tokoh-tokoh reformasi berebut Istana.

“Potong Bebek saja! Gitu aja kok repot!” kata Gusdur featuring Ursula.

 

Nahkoda kelima, Nahkoda pertama seorang wanita.

Dari tangan ibunya, Bendera Pusaka tercipta. Bukan bendera Slank yang berkibar di tiap acara.

Kata bapaknya, “Berikan aku sepuluh pemuda” tapi apa daya,

Itu di luar kemampuan ibu beranak tiga.

Kalau mau sepuluh pemuda, ambil saja dari followers Raditya Dika.

Cemunguuudhh eaa kakaaaaa..

 

Nahkoda keenam bagian A. Kenapa bagian A? Sengaja, biar tetap pada rima “A”.

Dua Pemilu mengungguli perolehan suara. Dua kali disumpah atas nama Garuda.

Tapi itu hanya awal cerita. Cerita panjangnya terpampang di banyak media.

Lapindo, Munir, Century, Hambalang, kami menolak lupa!

Kini ia telah hadir di sosial media, mungkin bermaksud mengalahkan Raditya Dika.

Setelah empat album yang entah seperti apa, mungkin dia akan membuat film,

Malam Minggu Istana, atau Cinta dalam Kasus Sutan Batugana.

 

2014 kini telah tiba. Saatnya kita kembali memilih Nahkoda.

Pastikan dia yang mengerti Bhinneka Tunggal Ika, bukan Boneka Milik Amerika.

Dia yang mengerti suara kita, suara kalau Indonesia Bisa!

Bukan suara “aitakata”, “ea ea”, atau “folbek dong kakaaa”

 

Inilah cerita Kapal Tua kita. Ada yang tidak percaya?

Sudah kalian percaya saja! (alk)

Salam, Saudaraku!

Asik..asik.. Halo semua!

Keselamatan, Kesejahteraan, dan kedamaian untukmu, saudaraku.

Tulisan ini saya buat khusus untuk saudari saya Revina Violetta @RevinaVT dan juga buat saudara-saudari saya yang lain yang sekiranya berpikiran sama. Hanya satu alasan kenapa saya membuat tulisan ini, karena saya mencintai kalian seperti saya mencintai yang lain tanpa terkecuali.

Selepas pre-show perdana 20 Komika Kompas TV yang ditayangkan pada Kamis, 13 Februari 2014 pukul 22.00 WIB, saya mendapat sebuah mention di twitter oleh @RevinaVT yang memberi saran seperti ini,

gambar satu

Dari apa yang dimention, saya menangkap satu poin penting yang menjadi inti kalimatnya, yaitu Salam Universal. Jika teman-teman memperhatikan, saya membuka penampilan saya malam hari itu dengan dua salam, “Assalamu’alaikum” dan “Selamat Malam”. Di akhir penampilan, saya menutup dengan “Selamat Malam”. Jika ada yang belum nonton, silahkan cari di youtube, semoga masih ada.

Sejujurnya, saya tahu arah pembicaraan Revina, saya hanya tidak ingin salah berasumsi di awal, sehingga saya tanyakan lagi maksud dari Salam Universal itu yang seperti apa.

gambar dua

Dari sini saya berpikiran bahwa sebenarnya Revina tahu kalau saya juga menggunakan “Selamat Malam” tapi tetap kurang setuju dengan penggunaan “Assalamu’alaikum”. Alasannya seperti pada tweet pertamanya, karena tidak semua penonton Muslim. Baiklah.

Salam Universal yang dimaksud oleh Revina sebenarnya cukup berat dilakukan, jika merujuk dari definisi yang dia berikan. Ini sudah saya jelaskan.

3 4

Perkiraan saya di awal adalah ketika penjelasan ini saya berikan maka berakhir sudah permasalahannya. Tetapi saya keliru. Masalahnya semakin menjadi luas ke ranah minoritas dan mayoritas di Indonesia. Sejujurnya, saya bisa menjelaskan pelan-pelan dari sedikit yang saya tahu selama ini. Hanya saja saya tidak tahu titik sebenarnya permasalahan yang menjadi keresahan Revina. Ada baiknya dia merangkum dulu keresahannya akan hal tersebut ke dalam sebuah tulisan, dan kesempatan berikutnya akan saya jelaskan perlahan-lahan berdasarkan itu.

Jika keresahannya pada salam, saya kira penjelasan saya cukup seperti yang sudah ada. Semoga berbahagia selalu. Tuhan beserta kita semua.

Keselamatan, Kesejahteraan, dan kedamaian untukmu, saudaraku.

Florenzza Cantare

Dua hari menjelang akhir bulan Agustus kemarin, aku terbaring berselimut hangat di tempat tidur. Selalu ada saat dalam hidup kita ketika sakit datang memperingatkan betapa terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk menguras fisik dan otak tanpa istirahat yang cukup. Sahabat kemudian menjadi penopang bagi kita yang hidup jauh dari orang tua. Mereka merawat atas dasar persaudaraan. Persaudaraan yang dibangun dalam kesamaan rasa, bukan kesamaan ras.

Hari ke tiga puluh satu di bulan kemerdekaan itu, kondisiku berangsur baik seiring kemenangan Juventus atas Lazio di giornata kedua Serie A. Siang hari di awal bulan September, berbekal kaos favoritku, aku siap mengisi acara bersama Arie Kriting. Apa lagi yang lebih berharga ketika kesempatan untuk sepanggung dengan orang yang melatih kita datang lagi seperti itu? Mungkin tidak ada. Semangat berlebih mendominasi hati ketika aku tau acara yang kami datangi itu adalah Konser Musik anak-anak dari suatu sanggar musik yang dibangun oleh seorang Ibu asal Ende – Nusa Tenggara Timur.

Continue reading